Modus Maling 'Zaman Now' Incar Konsumen Online - Cumiblogger | Gudang Berita | Informasi Terbaru
Segera daftarkan diri anda sekarang juga! Promo Bonus Deposit 10% untuk newmember bonus di bagikan setiap hari.

Breaking

Cumiblogger | Gudang Berita | Informasi Terbaru

Gudang Berita Bola International | Berita Terkini

Advertisement

Post Top Ad

Advertisement
Advertisement

Sunday, November 19, 2017

Modus Maling 'Zaman Now' Incar Konsumen Online


Bolautama.com, Jakarta - Sejarah mencatat, konsep belanja online dimulai pada 1979 oleh Michael Aldrich dari Redifon Computers, yang menyambungkan televisi berwarna dengan komputer yang mampu memproses transaksi secara realtime melalui sarana kabel telepon.

Kala itu, gagasan itu tak populer. Orang-orang masih belum bisa membayangkan belanja tanpa mendatangi toko, tak memilih, bahkan mencoba barang yang akan dibeli.

Sejalan dengan penemuan World Wide Web dan kemajuan internet, sejumlah penyedia jasa belanja dalam jaringan (daring) mulai bermunculan, dari sistem perbankan online, penjualan piza, hingga kemunculan situs belanja Amazon.com dan eBay pada 1995.

Dan kini, belanja online populer di antara para 'kids zaman now' alias anak-anak zaman sekarang, dengan perantaran komputer maupun telepon genggam. Tak harus mendatangi penjual, tinggal pilih, bayar, barang pun datang ke rumah.  Bayarnya pun tak pakai lembaran duit apalagi recehan. Sebab, uang elektronik kian lazim dipakai. 

Namun, segala kemajuan dan kemudahan menghadirkan celah bagi orang-orang berotak "kriminal". Kejahatan pun bermetamorfosis. Maling tak hanya membobol rumah orang, tapi juga menyusup ke dunia maya. 

Bintoro Adi jadi salah satu korbannya. Pemuda 23 tahun itu kaget bukan kepalang saat menerima emailpemberitahuan dari salah satu toko online. Di situ tertera informasi bahwa pembayaran untuk sebuah pesanan telah berhasil terkonfirmasi.

Padahal, ia tak merasa membeli apa pun. Apalagi, alamat yang tertera sama sekali tak dia kenal. Bintoro mendadak sontak panik. "Bukan panik karena uangnya. Tapi, akun toko online itu terhubung dengan email saya, takutnya dipakai macam-macam," kata dia kepada Bolautama.com.

Ia pun mengecek akun surat elektronik miliknya. Kemudian, ia menghubungi pihak toko online, memberitahukan bahwa email-nya diretas. Karyawan salah satu bank tersebut meminta pesanan yang mencatut namanya itu dibatalkan. "Pihak toko online cukup kooperatif. Mereka membatalkan pesanan, uang saya pun kembali," kata Bintoro.

Ia pun disarankan mengganti kata kunci akun miliknya. Pria yang yang tinggal di Jakarta Selatan ini sadar saat itu telah jadi korban kejahatan siber. Seseorang menggunakan akun miliknya serta memanfaatkan saldo depositnya untuk bertransaksi di toko online.

Hal serupa dialami Aymenda. Perempuan 29 tahun itu terpaksa merelakan deposit saldo miliknya di aplikasi ojek online raib dalam sekejap.

Semua itu berawal dari sebuah panggilan di ponselnya. Suara di seberang telepon mengaku dari customer service sebuah aplikasi ojek online.

Ia diiming-imingin mendapat bonus saldo Rp 175 ribu. "Dia bilang, 'tunggu Mbak, sudah di-SMS sebentar saja kok tinggal disebutin empat angka!'" kata Aymenda menirukan perkataan peneleponnya.

Saat saldo dicek, tak ada penambahan uang sesuai nominal yang telah disepakati. Malah ia kaget, pada history transaksi menunjukan saldonya telah ditransfer ke orang yang tak ia kenal. Tinggal Rp 0.
"Saya langsung telepon ke call centre-nya. Lalu akun saya di-suspend," katanya.

Kasus penipuan di layanan e-commerce memang marak terjadi tiga tahun terakhir ini, demikian menurut Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus, Subdit Cyber Crime, Polri.

"Berdasarkan data yang kami miliki, laporan yang kami terima dari masyarakat, setiap tahun mengalami peningkatan. Pada 2015 sampai tahun 2017 itu cukup naik sekitar 100 kasus" kata Kanit IV Subdit Cyber Crime Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya, Kompol Fian Yunus kepada Cumiblogger.com.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Advertisement